Kamis, 06 Oktober 2016

MINERAL WATER BRING DESTINATION



MINERAL WATER BRING DESTINATION
           
            Aku hanya bisa memandanginya dari bawah pepohonan yang rindang ini. Memandang dengan penuh ketakjuban akan sosok dirinya yang sudah sejak lama ku kagumi. Ya, aku hanya berani sebatas itu, tidak lebih. Ntahlah, akupun tidak tau kenapa bisa se-addicted ini dengannya. Padahal kami tidak saling mengenal, kami berbeda jurusan di kampus ini. Tetapi hanya melihatnya saja sudah membuat hari-hari ku bahagia. Aku seperti anak kecil yang mendapat permen dari ibunya. Aku tidak tau pesona apa yang dipakainya sehingga aku bisa berlama-lama disini hanya untuk melihatnya.
            Aku mengetahui semua tentangnya. Semua yang ada pada dirinya. Katakanlah aku stalker, secret admirer or whatever what do you want to say that! Karena dengan cara seperti inilah aku bisa merasa dekat dengannya. Karena dengan cara seperti inilah aku bisa berimajinasi tentangnya. Aku mengaguminya luar dalam, sampai sakit rasanya jika aku tidak bisa melihatnya barang sedetikpun. Dia yang mempunyai kebiasaan membawa komik kesukaannya, headphone, mp3 dan sebotol air mineral. Aku tidak tau, kenapa dia sering membawa botol air mineral tersebut?! Padahal yang aku tau dia menyukai cappucino latte. Dia bahkan pernah mengatakan kalo cappucino latte adalah minuman yang paling berharga. Jangan tanya aku tau darimana, karena aku sering mengikuti kemanapun dia pergi jadi aku mencuri dengar obrolan-obrolan dia dengan teman-temannya.
“Oii Nez, ngapain lu disini?” Kata seseorang yang sukses menghancurkan ‘kegiatan’ ku.
“Ihh, lu mah ganggu gua banget deh! Sono ah pergi jangan ganggu!” sewot ku kepada ‘seseorang’ yang ternyata temanku.
“Yee, lu mah di tanyain baik-baik malah gitu jawabnya, ngusir lagi-_-“
“Baik-baik darimana? Lu nya aja datang langsung ngejutin gua, itu yang namanya ‘baik-baik’?” jawabku judes kepada temanku itu.
“Hehe sorry deh, lagian lu asik banget deh ngeliatin kearah situ! Ada apa sih emangnya?!”
            Aku diam tanpa menjawab pertanyaan yang menurutku tidak penting.
“Ohmaigat! Lu masi aja ngeliatin dia yang pada dasarnya kalian ga saling kenal, ralat maksud gua dia yang ga kenal lu?!”
            Sekali lagi aku tidak menjawab pertanyaan –yang sudah pasti diketahui oleh temanku– nya.
“Nez, coba lu samperin dia, ajak kenalan kali aja dia respon baik. Kalo gini terus yang ada dia yang gabakalan kenal sama lu”
“Gua gabisa. Dia terlalu jauh buat diraih. Dia sulit buat digapai. He is imposibble”.
“Terus aja lu bilang kaya gitu. Terus aja lu jadi orang yang pesimis. Tau ga lu sebenarnya harus punya keberanian! Jangan jadi pengecut yang bisanya sembunyi dibalik pohon sebesar ini. Be brave coba! Lu terlalu nethink dengan segala hal yang menyangkut tentang dia. Percuma lu udah tau semua tentang dia, semua kebiasaan dia, semua cerita dia tapi lu GAPERNAH sekalipun bertegur sapa sama dia. Kalo gini terus caranya congrate, you’ll lost him because yourself!”
            Aku terdiam. Merenungi setiap kata yang dikatakan oleh temanku tersebut. Semua yang dikatakannya benar. Memang selama ini kami tidak pernah bertegur sapa, bahkan kami tidak pernah sekedar untuk melirik –aku yang selalu meliriknya– jika berpapasan. Aku hanya terlalu takut, takut dia menolakku, takut dia menghindar jika aku mengajaknya untuk sekedar mengobrol. Aku selalu dipenuhi oleh pikiran-pikiran buruk jika aku punya niatan ingin mendekatinya. Tapi jangan sepenuhnya salahkan aku! Aku diposisi dimana aku sangat menyukainya tapi dia –yang aku tahu– tidak menyukaiku. Jadi apa yang akan kau lakukan?! Of course you’ll like me, right?
“Sekarang terserah lu aja deh Nez. Semuanya ada di lu. Gua Cuma temen lu yang hanya bisa kasi saran yang terbaik buat lu. Lu punya pilihan take him or leave him! Gua cabut dulu, pikirkan baik-baik apa yang gua saranin sama lu. Goodluck!”
            Seiring perginya temen ku –yang sampai saat ini tidak aku beritahu namanya kepada kalian– ku lihat ‘dia’ juga berdiri bersiap-siap meninggalkan tempat yang sedari tadi di dudukinya. Dia melihat sebentar sekelilingnya seperti mencari sesuatu, dan pada saat dia melihat kearahku, aku memalingkan muka secepat kilat dan langsung berlari sekencang-kencangnya guna menghindari tatapannya. Oh God, aku tidak kuat melihat pandangannya tadi, seakan-akan dia ingin menerkam ku saja. Matanya sangat tajam seperti pisau. Air! Mana air?! Aku butuh air. Aku yang selalu membawa air kemana-mana jika aku merasa gugup, down, dan takut tiba-tiba melupakan’nya’.
            Sesampainya di lapangan sekolah, ku netralkan jantungku yang memompa sangat cepat karena adegan ‘lari’ ku tadi. Aku sangat kecapaian sampai lututku lemas rasanya. Aku mengistirahatkan badanku disini untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Aku masi memikirkan kenapa dia yang dengan tiba-tibanya melihat kearahku padahal tempat ‘persembunyian’ ku selama ini jarang terlihat bahkan banyak yang tidak mengetahuinya, tetapi mengapa dia bisa tau? Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, agak heran dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti ini.
            Selepas aku mengistirahatkan badanku, aku beranjak pergi dari lapangan ini, menuju ke kelas ingin mengambil tas dan air mineral yang baru aku sadari tidak aku bawa sedari tadi. Ketika di koridor, aku melihatnya dari arah berlawanan dengan headphone yang selalu bertengger manis di telinganya dan tak lupa pula air mineral di tangannya. Aku bertanya-tanya, kenapa dia akhir-akhir ini membawa air mineral? Apa dia sudah mengubah kesukaannya dari cappucino latte ke air mineral? Apa alasannya? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada sampai mau pecah rasanya kepalaku.
            Dia melihatku ‘lagi’. Underline the world lagi!!! Secepat kilat aku berlari ‘lagi’ menuju kelasku. Tidak peduli dengan orang-orang yang melihatku dengan tatapan ‘aneh’ karena sedari tadi aku hanya berlari seperti ada yang mengejarku saja. Aku putar arah dari yang seharusnya. Ketika aku hampir sampai ke kelas tiba-tiba dia sudah berdiri dihadapanku dengan cepat dan menarik pergelangan tanganku agar aku tidak menjauh darinya. Dia langsung menatapku dengan tajam sehingga aku mengalihkan pandanganku dari matanya. Aku mencoba menetralkan degupan jantungku yang sedari tadi memompa dengan kencang. Aku malu! Sungguh malu! Kenapa dia harus muncul dihadapanku dengan tiba-tiba seperti ini? Help me, God!
            Tiba-tiba dia berkata “Ini minum dulu! Daritadi lari-larian mulu kaya liat setan aja. Hahaha”. Seketika aku melongo melihatnya ketawa lepas yang semakin menambah kadar kegantengannya. Dia menghentikan tawanya dan berkata “Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa tau kamu, kenal kamu, bahkan membawa air mineral ini kemana-mana? Kamu pasti heran aku yang seorang cappucino latte sejati, yang addict banget sama minuman itu tiba-tiba membawa air mineral ini kemanapun aku pergi, iyakan? Semua itu karena kamu. Iya. Kamu! Kamu yang mengagumiku secara diam-diam, kamu yang hanya ‘memandangi’ku dari kejauhan yang bahkan tempatnya agak tersembunyi, kamu yang tidak berani menyapaku duluan bahkan selalu menunduk jika kita berpapasan dan kamu jugalah yang memberiku air mineral ini ketika aku bermasalah dengan kedua orangtuaku yang bahkan gaada sangkut pautnya dengan masalah ku dan aku masi mengingat semua perkataan kamu waktu itu ‘Jangan lari dari masalah yang ada pada hidupmu. Ketahuilah Tuhan hanya ingin melihat hamba-Nya kuat dalam segala cobaan hidup. Jika kau ada masalah minum air ini yang walaupun murah tapi dia mempunyai kegunaan yang sangat besar. Kau harus kuat’. Kita yang pada saat itu tidak saling mengenal tetapi karena air mineral inilah kita dipersatukan”.



By : anneews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar