MINERAL WATER
BRING DESTINATION
Aku hanya bisa memandanginya dari bawah pepohonan yang
rindang ini. Memandang dengan penuh ketakjuban akan sosok dirinya yang sudah
sejak lama ku kagumi. Ya, aku hanya berani sebatas itu, tidak lebih. Ntahlah,
akupun tidak tau kenapa bisa se-addicted ini dengannya. Padahal kami tidak
saling mengenal, kami berbeda jurusan di kampus ini. Tetapi hanya melihatnya
saja sudah membuat hari-hari ku bahagia. Aku seperti anak kecil yang mendapat
permen dari ibunya. Aku tidak tau pesona apa yang dipakainya sehingga aku bisa
berlama-lama disini hanya untuk melihatnya.
Aku mengetahui semua tentangnya. Semua yang ada pada
dirinya. Katakanlah aku stalker, secret admirer or whatever what do you want
to say that! Karena dengan cara seperti inilah aku bisa merasa dekat
dengannya. Karena dengan cara seperti inilah aku bisa berimajinasi tentangnya.
Aku mengaguminya luar dalam, sampai sakit rasanya jika aku tidak bisa
melihatnya barang sedetikpun. Dia yang mempunyai kebiasaan membawa komik kesukaannya,
headphone, mp3 dan sebotol air mineral. Aku tidak tau, kenapa dia sering
membawa botol air mineral tersebut?! Padahal yang aku tau dia menyukai
cappucino latte. Dia bahkan pernah mengatakan kalo cappucino latte adalah
minuman yang paling berharga. Jangan tanya aku tau darimana, karena aku sering
mengikuti kemanapun dia pergi jadi aku mencuri dengar obrolan-obrolan dia
dengan teman-temannya.
“Oii Nez, ngapain lu
disini?” Kata seseorang yang sukses menghancurkan ‘kegiatan’ ku.
“Ihh, lu mah ganggu gua
banget deh! Sono ah pergi jangan ganggu!” sewot ku kepada ‘seseorang’ yang
ternyata temanku.
“Yee, lu mah di tanyain
baik-baik malah gitu jawabnya, ngusir lagi-_-“
“Baik-baik darimana? Lu
nya aja datang langsung ngejutin gua, itu yang namanya ‘baik-baik’?” jawabku
judes kepada temanku itu.
“Hehe sorry deh, lagian
lu asik banget deh ngeliatin kearah situ! Ada apa sih emangnya?!”
Aku diam tanpa menjawab pertanyaan yang menurutku tidak
penting.
“Ohmaigat! Lu masi aja
ngeliatin dia yang pada dasarnya kalian ga saling kenal, ralat maksud gua dia
yang ga kenal lu?!”
Sekali lagi aku tidak menjawab pertanyaan –yang sudah
pasti diketahui oleh temanku– nya.
“Nez, coba lu samperin
dia, ajak kenalan kali aja dia respon baik. Kalo gini terus yang ada dia yang
gabakalan kenal sama lu”
“Gua gabisa. Dia
terlalu jauh buat diraih. Dia sulit buat digapai. He is imposibble”.
“Terus aja lu bilang
kaya gitu. Terus aja lu jadi orang yang pesimis. Tau ga lu sebenarnya harus
punya keberanian! Jangan jadi pengecut yang bisanya sembunyi dibalik pohon
sebesar ini. Be brave coba! Lu
terlalu nethink dengan segala hal
yang menyangkut tentang dia. Percuma lu udah tau semua tentang dia, semua
kebiasaan dia, semua cerita dia tapi lu GAPERNAH sekalipun bertegur sapa sama
dia. Kalo gini terus caranya congrate,
you’ll lost him because yourself!”
Aku terdiam. Merenungi setiap kata yang dikatakan oleh
temanku tersebut. Semua yang dikatakannya benar. Memang selama ini kami tidak
pernah bertegur sapa, bahkan kami tidak pernah sekedar untuk melirik –aku yang
selalu meliriknya– jika berpapasan. Aku hanya terlalu takut, takut dia
menolakku, takut dia menghindar jika aku mengajaknya untuk sekedar mengobrol.
Aku selalu dipenuhi oleh pikiran-pikiran buruk jika aku punya niatan ingin
mendekatinya. Tapi jangan sepenuhnya salahkan aku! Aku diposisi dimana aku
sangat menyukainya tapi dia –yang aku tahu– tidak menyukaiku. Jadi apa yang
akan kau lakukan?! Of course you’ll like
me, right?
“Sekarang terserah lu
aja deh Nez. Semuanya ada di lu. Gua Cuma temen lu yang hanya bisa kasi saran
yang terbaik buat lu. Lu punya pilihan take
him or leave him! Gua cabut dulu, pikirkan baik-baik apa yang gua saranin
sama lu. Goodluck!”
Seiring perginya temen ku –yang sampai saat ini tidak aku
beritahu namanya kepada kalian– ku lihat ‘dia’ juga berdiri bersiap-siap
meninggalkan tempat yang sedari tadi di dudukinya. Dia melihat sebentar
sekelilingnya seperti mencari sesuatu, dan pada saat dia melihat kearahku, aku
memalingkan muka secepat kilat dan langsung berlari sekencang-kencangnya guna
menghindari tatapannya. Oh God, aku tidak kuat melihat pandangannya tadi,
seakan-akan dia ingin menerkam ku saja. Matanya sangat tajam seperti pisau.
Air! Mana air?! Aku butuh air. Aku yang selalu membawa air kemana-mana jika aku
merasa gugup, down, dan takut
tiba-tiba melupakan’nya’.
Sesampainya di lapangan sekolah, ku netralkan jantungku
yang memompa sangat cepat karena adegan ‘lari’ ku tadi. Aku sangat kecapaian sampai
lututku lemas rasanya. Aku mengistirahatkan badanku disini untuk menghirup
udara sebanyak-banyaknya. Aku masi memikirkan kenapa dia yang dengan
tiba-tibanya melihat kearahku padahal tempat ‘persembunyian’ ku selama ini
jarang terlihat bahkan banyak yang tidak mengetahuinya, tetapi mengapa dia bisa
tau? Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, agak heran dengan sikapnya yang
tiba-tiba seperti ini.
Selepas aku mengistirahatkan badanku, aku beranjak pergi
dari lapangan ini, menuju ke kelas ingin mengambil tas dan air mineral yang
baru aku sadari tidak aku bawa sedari tadi. Ketika di koridor, aku melihatnya
dari arah berlawanan dengan headphone yang selalu bertengger manis di
telinganya dan tak lupa pula air mineral di tangannya. Aku bertanya-tanya, kenapa
dia akhir-akhir ini membawa air mineral? Apa dia sudah mengubah kesukaannya
dari cappucino latte ke air mineral? Apa alasannya? Kenapa aku tidak
mengetahuinya? Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada sampai mau pecah
rasanya kepalaku.
Dia melihatku ‘lagi’. Underline
the world lagi!!! Secepat kilat aku berlari ‘lagi’ menuju kelasku.
Tidak peduli dengan orang-orang yang melihatku dengan tatapan ‘aneh’ karena
sedari tadi aku hanya berlari seperti ada yang mengejarku saja. Aku putar arah
dari yang seharusnya. Ketika aku hampir sampai ke kelas tiba-tiba dia sudah
berdiri dihadapanku dengan cepat dan menarik pergelangan tanganku agar aku
tidak menjauh darinya. Dia langsung menatapku dengan tajam sehingga aku
mengalihkan pandanganku dari matanya. Aku mencoba menetralkan degupan jantungku
yang sedari tadi memompa dengan kencang. Aku malu! Sungguh malu! Kenapa dia
harus muncul dihadapanku dengan tiba-tiba seperti ini? Help me, God!
Tiba-tiba dia berkata “Ini minum dulu! Daritadi
lari-larian mulu kaya liat setan aja. Hahaha”. Seketika aku melongo melihatnya
ketawa lepas yang semakin menambah kadar kegantengannya. Dia menghentikan
tawanya dan berkata “Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa tau kamu, kenal
kamu, bahkan membawa air mineral ini kemana-mana? Kamu pasti heran aku yang
seorang cappucino latte sejati, yang addict banget sama minuman itu tiba-tiba
membawa air mineral ini kemanapun aku pergi, iyakan? Semua itu karena kamu.
Iya. Kamu! Kamu yang mengagumiku secara diam-diam, kamu yang hanya ‘memandangi’ku
dari kejauhan yang bahkan tempatnya agak tersembunyi, kamu yang tidak berani
menyapaku duluan bahkan selalu menunduk jika kita berpapasan dan kamu jugalah
yang memberiku air mineral ini ketika aku bermasalah dengan kedua orangtuaku
yang bahkan gaada sangkut pautnya dengan masalah ku dan aku masi mengingat
semua perkataan kamu waktu itu ‘Jangan lari dari masalah yang ada pada hidupmu.
Ketahuilah Tuhan hanya ingin melihat hamba-Nya kuat dalam segala cobaan hidup.
Jika kau ada masalah minum air ini yang walaupun murah tapi dia mempunyai
kegunaan yang sangat besar. Kau harus kuat’. Kita yang pada saat itu tidak
saling mengenal tetapi karena air mineral inilah kita dipersatukan”.
By : anneews
Tidak ada komentar:
Posting Komentar