Rabu, 26 Oktober 2016

JAMAL'S AUTOBIOGRAPHY



JAMAL’S AUTOBIOGRAPHY

          Jamaluddin Al-Faruq is his name. He was born on December 10th, 1997 in Pekanbaru. He is first son of Aprianto and Melinda. He has 3 young brother and I dunno what their name is. He is a moslem. He minangnese. He is ma classmate in Lancang Kuning university and I want to tell us about them. Just a little know about him because I don’t close to him and let me to tell about him.
          He graduated from elementary school of SD Muhammadiah 3 Pekanbaru. But, he has a lot of story since elementary school such as bad story and good story. For example, semasa dia kecil, dia terkenal dengan kenakalannya. Anak-anak yang pada umumnya memang nakal. Walaupun kenakalan anak-anak memang wajar pada masa itu. Kenapa dia disebut anak nakal? Ini alasannya.
          Pada waktu kecil, semasa dia belum mengeyam pendidikan karena pada saat itu dia masih berusia 3 tahun, dia sangat tertarik akan sesuatu hal apapun yang ada di sekitarnya. Rasa penasaran yang tinggi muncul begitu saja dibenaknya. Sehingga dia lebih aktif untuk melakukan sesuatu yang menarik di matanya. Yaa, namanya juga anak-anak memang cenderung lebih aktif dibanding remaja ataupun dewasa.
          Seperti shalat di mesjid, pada waktu itu ayahnya mengajaknya ke mesjid untuk shalat supaya dia lebih paham tentang shalat. Umurnya yang pada saat itu berusia 3 tahun dan dia sudah bisa menghafal surat-surat pendek dalam al-quran yang sering diajarkan oleh ayah dan ibunya. Jadi saat ayahnya membawa dia ke mesjid dia mengikuti surat yang dibaca oleh imam dan membacanya keras-keras, kemudian masuk kesurat ke-2 yang dia tidak tau dan tidak hafal, tetapi dia tetap membaca keras-keras surat-surat pendek yang hanya dihafalnya. Sesudah shalat bapak-bapak yang ada disitu tertawa melihat dia dan ayahnya pun membawa dia pulang. Semasa dia SMP maupun SMA dia sudah berkurang dengan kenakalannya karena dia lebih suka dengan adventure. Yang saya tau dia anak yang pendiam tetapi memiliki intelektual yang bagus. Dia pintar dalam bidang akademik dan dia selalu menjuarai baca al-quran. Dia orang yang suka debat dan selalu punya argumen yang menarik.

Kamis, 06 Oktober 2016

MINERAL WATER BRING DESTINATION



MINERAL WATER BRING DESTINATION
           
            Aku hanya bisa memandanginya dari bawah pepohonan yang rindang ini. Memandang dengan penuh ketakjuban akan sosok dirinya yang sudah sejak lama ku kagumi. Ya, aku hanya berani sebatas itu, tidak lebih. Ntahlah, akupun tidak tau kenapa bisa se-addicted ini dengannya. Padahal kami tidak saling mengenal, kami berbeda jurusan di kampus ini. Tetapi hanya melihatnya saja sudah membuat hari-hari ku bahagia. Aku seperti anak kecil yang mendapat permen dari ibunya. Aku tidak tau pesona apa yang dipakainya sehingga aku bisa berlama-lama disini hanya untuk melihatnya.
            Aku mengetahui semua tentangnya. Semua yang ada pada dirinya. Katakanlah aku stalker, secret admirer or whatever what do you want to say that! Karena dengan cara seperti inilah aku bisa merasa dekat dengannya. Karena dengan cara seperti inilah aku bisa berimajinasi tentangnya. Aku mengaguminya luar dalam, sampai sakit rasanya jika aku tidak bisa melihatnya barang sedetikpun. Dia yang mempunyai kebiasaan membawa komik kesukaannya, headphone, mp3 dan sebotol air mineral. Aku tidak tau, kenapa dia sering membawa botol air mineral tersebut?! Padahal yang aku tau dia menyukai cappucino latte. Dia bahkan pernah mengatakan kalo cappucino latte adalah minuman yang paling berharga. Jangan tanya aku tau darimana, karena aku sering mengikuti kemanapun dia pergi jadi aku mencuri dengar obrolan-obrolan dia dengan teman-temannya.
“Oii Nez, ngapain lu disini?” Kata seseorang yang sukses menghancurkan ‘kegiatan’ ku.
“Ihh, lu mah ganggu gua banget deh! Sono ah pergi jangan ganggu!” sewot ku kepada ‘seseorang’ yang ternyata temanku.
“Yee, lu mah di tanyain baik-baik malah gitu jawabnya, ngusir lagi-_-“
“Baik-baik darimana? Lu nya aja datang langsung ngejutin gua, itu yang namanya ‘baik-baik’?” jawabku judes kepada temanku itu.
“Hehe sorry deh, lagian lu asik banget deh ngeliatin kearah situ! Ada apa sih emangnya?!”
            Aku diam tanpa menjawab pertanyaan yang menurutku tidak penting.
“Ohmaigat! Lu masi aja ngeliatin dia yang pada dasarnya kalian ga saling kenal, ralat maksud gua dia yang ga kenal lu?!”
            Sekali lagi aku tidak menjawab pertanyaan –yang sudah pasti diketahui oleh temanku– nya.
“Nez, coba lu samperin dia, ajak kenalan kali aja dia respon baik. Kalo gini terus yang ada dia yang gabakalan kenal sama lu”
“Gua gabisa. Dia terlalu jauh buat diraih. Dia sulit buat digapai. He is imposibble”.
“Terus aja lu bilang kaya gitu. Terus aja lu jadi orang yang pesimis. Tau ga lu sebenarnya harus punya keberanian! Jangan jadi pengecut yang bisanya sembunyi dibalik pohon sebesar ini. Be brave coba! Lu terlalu nethink dengan segala hal yang menyangkut tentang dia. Percuma lu udah tau semua tentang dia, semua kebiasaan dia, semua cerita dia tapi lu GAPERNAH sekalipun bertegur sapa sama dia. Kalo gini terus caranya congrate, you’ll lost him because yourself!”
            Aku terdiam. Merenungi setiap kata yang dikatakan oleh temanku tersebut. Semua yang dikatakannya benar. Memang selama ini kami tidak pernah bertegur sapa, bahkan kami tidak pernah sekedar untuk melirik –aku yang selalu meliriknya– jika berpapasan. Aku hanya terlalu takut, takut dia menolakku, takut dia menghindar jika aku mengajaknya untuk sekedar mengobrol. Aku selalu dipenuhi oleh pikiran-pikiran buruk jika aku punya niatan ingin mendekatinya. Tapi jangan sepenuhnya salahkan aku! Aku diposisi dimana aku sangat menyukainya tapi dia –yang aku tahu– tidak menyukaiku. Jadi apa yang akan kau lakukan?! Of course you’ll like me, right?
“Sekarang terserah lu aja deh Nez. Semuanya ada di lu. Gua Cuma temen lu yang hanya bisa kasi saran yang terbaik buat lu. Lu punya pilihan take him or leave him! Gua cabut dulu, pikirkan baik-baik apa yang gua saranin sama lu. Goodluck!”
            Seiring perginya temen ku –yang sampai saat ini tidak aku beritahu namanya kepada kalian– ku lihat ‘dia’ juga berdiri bersiap-siap meninggalkan tempat yang sedari tadi di dudukinya. Dia melihat sebentar sekelilingnya seperti mencari sesuatu, dan pada saat dia melihat kearahku, aku memalingkan muka secepat kilat dan langsung berlari sekencang-kencangnya guna menghindari tatapannya. Oh God, aku tidak kuat melihat pandangannya tadi, seakan-akan dia ingin menerkam ku saja. Matanya sangat tajam seperti pisau. Air! Mana air?! Aku butuh air. Aku yang selalu membawa air kemana-mana jika aku merasa gugup, down, dan takut tiba-tiba melupakan’nya’.
            Sesampainya di lapangan sekolah, ku netralkan jantungku yang memompa sangat cepat karena adegan ‘lari’ ku tadi. Aku sangat kecapaian sampai lututku lemas rasanya. Aku mengistirahatkan badanku disini untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Aku masi memikirkan kenapa dia yang dengan tiba-tibanya melihat kearahku padahal tempat ‘persembunyian’ ku selama ini jarang terlihat bahkan banyak yang tidak mengetahuinya, tetapi mengapa dia bisa tau? Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, agak heran dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti ini.
            Selepas aku mengistirahatkan badanku, aku beranjak pergi dari lapangan ini, menuju ke kelas ingin mengambil tas dan air mineral yang baru aku sadari tidak aku bawa sedari tadi. Ketika di koridor, aku melihatnya dari arah berlawanan dengan headphone yang selalu bertengger manis di telinganya dan tak lupa pula air mineral di tangannya. Aku bertanya-tanya, kenapa dia akhir-akhir ini membawa air mineral? Apa dia sudah mengubah kesukaannya dari cappucino latte ke air mineral? Apa alasannya? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada sampai mau pecah rasanya kepalaku.
            Dia melihatku ‘lagi’. Underline the world lagi!!! Secepat kilat aku berlari ‘lagi’ menuju kelasku. Tidak peduli dengan orang-orang yang melihatku dengan tatapan ‘aneh’ karena sedari tadi aku hanya berlari seperti ada yang mengejarku saja. Aku putar arah dari yang seharusnya. Ketika aku hampir sampai ke kelas tiba-tiba dia sudah berdiri dihadapanku dengan cepat dan menarik pergelangan tanganku agar aku tidak menjauh darinya. Dia langsung menatapku dengan tajam sehingga aku mengalihkan pandanganku dari matanya. Aku mencoba menetralkan degupan jantungku yang sedari tadi memompa dengan kencang. Aku malu! Sungguh malu! Kenapa dia harus muncul dihadapanku dengan tiba-tiba seperti ini? Help me, God!
            Tiba-tiba dia berkata “Ini minum dulu! Daritadi lari-larian mulu kaya liat setan aja. Hahaha”. Seketika aku melongo melihatnya ketawa lepas yang semakin menambah kadar kegantengannya. Dia menghentikan tawanya dan berkata “Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa tau kamu, kenal kamu, bahkan membawa air mineral ini kemana-mana? Kamu pasti heran aku yang seorang cappucino latte sejati, yang addict banget sama minuman itu tiba-tiba membawa air mineral ini kemanapun aku pergi, iyakan? Semua itu karena kamu. Iya. Kamu! Kamu yang mengagumiku secara diam-diam, kamu yang hanya ‘memandangi’ku dari kejauhan yang bahkan tempatnya agak tersembunyi, kamu yang tidak berani menyapaku duluan bahkan selalu menunduk jika kita berpapasan dan kamu jugalah yang memberiku air mineral ini ketika aku bermasalah dengan kedua orangtuaku yang bahkan gaada sangkut pautnya dengan masalah ku dan aku masi mengingat semua perkataan kamu waktu itu ‘Jangan lari dari masalah yang ada pada hidupmu. Ketahuilah Tuhan hanya ingin melihat hamba-Nya kuat dalam segala cobaan hidup. Jika kau ada masalah minum air ini yang walaupun murah tapi dia mempunyai kegunaan yang sangat besar. Kau harus kuat’. Kita yang pada saat itu tidak saling mengenal tetapi karena air mineral inilah kita dipersatukan”.



By : anneews

Selasa, 20 September 2016

INTRODUCTION TO LITERATURE (PROSE)

Prose

Definition

Prose is a form of language that has no formal metrical structure. It applies a natural flow of speech, and ordinary grammatical structure rather than rhythmic structure, such as in the case of traditional poetry.

Types of Prose

1. Nonfictional Prose : A literary work that is mainly based on fact although it may contain fictional elements in certain cases. Examples are biographies and essays.
2. Fictional Prose : A literary work that is wholly or partly imagined or theoretical. Examples are novels.
3. Heroic Prose : A literary work that may be written down or recited and employs many of the formulaic expressions found in oral tradition. Examples are legends and tales.
4. Prose Poetry : A literary work which exhibits poetic quality using emotional effects and heightened imagery but are written in prose instead of verse.

Functions of Prose

While there have been many critical debates over the correct and valid construction of prose, the reason for its adoption can be attributed to its loosely defined structure which most writers feel comfortable using when expressing, or conveying their ideas and thoughts. It is the standard style of writing used for most spoken dialogues, fictional as well as topical and factual writing and discoursed. It is also the common language used in newspapers, magazines, literature, encyclopedias, broadcasting, philosophy, law, history, the sciences and many other forms of communication.

Later Middle English prose

The continuity of a tradition in English prose writing, linking the later with the early Middle English period, is somewhat clearer than that detected in verse. The Ancrene Wisse, for example, continued to be copied and adapted to suit changing tastes and circumstances. But sudden and brilliant imaginative phenomena like the writings of Chaucer, Langland, and the author of Sir Gawayne are not to be found in prose. Instead came steady growth in the composition of religious prose of various kinds and the first appearance of secular prose in any quantity.

Religious prose

Of the first importance was the development of a sober, analytical, but nonetheless impressive kind of contemplative or mystical prose, represented by Walter Hilton’s Scale of Perfection and the anonymous Cloud of Unknowing. The authors of these pieces certainly knew the more rugged and fervent writings of their earlier, 14th-century predecessor Richard Rolle, and to some extent they reacted against what they saw as excesses in the style and content of his work. It is of particular interest to note that the mystical tradition was continued into the 15th century, though in very different ways, by two women writers, Julian of Norwich and Margery Kempe. Julian, often regarded as the first English woman of letters, underwent a series of mystical experiences in 1373 about which she wrote in her Sixteen Revelations of Divine Love, one of the foremost works of English spirituality by the standards of any age. Rather different religious experiences went into the making of The Book of Margery Kempe (c. 1432–36), the extraordinary autobiographical record of a bourgeoise woman, dictated to two clerks. The nature and status of its spiritual content remain controversial, but its often engaging colloquial style and vivid realization of the medieval scene are of abiding interest.
Another important branch of the contemplative movement in prose involved the translation of Continental Latin texts. A major example, and one of the best-loved of all medieval English books in its time, is The Mirror of the Blessed Life of Jesus Christ (c. 1410), Nicholas Love’s translation of the Meditationes vitae Christi, attributed to St. Bonaventure. Love’s work was particularly valued by the church as an orthodox counterbalance to the heretical tendencies of the Lollards, who espoused the teachings of John Wycliffe and his circle. The Lollard movement generated a good deal of stylistically distinctive prose writing, though as the Lollards soon came under threat of death by burning, nearly all of it remains anonymous. A number of English works have been attributed to Wycliffe himself, and the first English translation of the Bible to Wycliffe’s disciple John Purvey, but there are no firm grounds for these attributions. The Lollard Bible, which exists in a crude early form and in a more impressive later version (supposedly Purvey’s work), was widely read in spite of being under doctrinal suspicion. It later influenced William Tyndale’s translation of the New Testament, completed in 1525, and, through Tyndale, the King James Version (1611)

Secular prose

Secular compositions and translations in prose also came into prominence in the last quarter of the 14th century, though their stylistic accomplishment does not always match that of the religious tradition. Chaucer’s “Tale of Melibeus” and his two astronomical translations, the Treatise on the Astrolabe and the Equatorie of the Planets, were relatively modest endeavours beside the massive efforts of John of Trevisa, who translated from Latin both Ranulf Higden’s Polychronicon (c. 1385–87), a universal history, and Bartholomaeus Anglicus’s De proprietatibus rerum (1398; “On the Properties of Things”), an encyclopaedia. Judging by the number of surviving manuscripts, however, the most widely read secular prose work of the period is likely to have been The Voyage and Travels of Sir John Mandeville, the supposed adventures of Sir John Mandeville, knight of St. Albans, on his journeys through Asia. Though the work now is believed to be purely fictional, its exotic allure and the occasionally arch style of its author were popular with the English reading public down to the 18th century.

Minggu, 12 Juni 2016

SEMANTIK (PILIHAN SAYA DALAM LINGUISTIK)



SEMANTIK
            Seperti yang sudah dipelajari sebelumnya, dalam linguistic saya memilih leksikologi. Tetapi, saya tidak menguasai materi itu dengan baik dan benar, sehingga saya tidak terlalu mengerti jika ada orang lain bertanya tentang leksikologi. Tetapi, dalam cabang ilmu linguistic ada 1 yang saya pahami, yaitu semantic. Walaupun tidak terlalu mengerti haha. Okay saya akan membahasnya.
I.         Pengertian Semantik Menurut Para Ahli
Kata semantik dalam bahasa indonesia (Inggris: semantics) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda yang berarti “tanda” atau “lambang” kata kerjanya adalah semaino yang berarti “menandai” atau “melambangkan” (Chaer, 2009: 2) yang dimaksud tanda atau lambang disini sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistik (Perancis: signé linguistique)
a.     Ferdinand de Saussure (1966)
Yaitu yang terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu. Kedua komponen ini adalah merupakan tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau atau yang dilambanginya adalah sesuatu yang berbeda diluar bahsa yang lazim disebut referen atau hal yang ditunjuk.
b.    Tarigan (1985:2)
Mengatakan bahwa semantik dapat dipakai dalam pengertian luas dan dalam pengertian sempit. Semantik dalam arti sempit dapat diartikan sebagai telaah hubungan tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda  tersebut. Semantik dalam arti luas dapat diartikan sebagai ilmu telaah makna. Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna satu dengan makna yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia.
c.     J.W.M Verharr (2001:384)
Semantik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu semantik gramatikal dan semantik leksikal. Istilah semantik ini digunakan para ahli bahasa untuk menyebut salah satu cabang ilmu bahsa yang bergerak pada tataran makna atau ilmu bahsa yang mempelajari makna.
d.    Abdul Chaer (2009:6-11)
Jenis semantik berdasarkan tataran atau bagian dari bahasa yang menjadi objek penyelidikan dapat dibedakan menjadi empat, yaitu (1) semantik leksikal yang merupakan jenis semantik yang objek penelitiannya adalah leksikon dari suatu bahsa, (2) semantik gramatikal yang merupakan jenis semantik yang objek penelitiannya adalah makna-makna gramatikal dari tataran morfologi, (3) semantik sintaksikal yang merupakan jenis semantik yang sasaran penyelidikannya bertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis, (4) semantik maksud yang merupakan jenis semantik yang berkenaan dengan pemakaian bentuk-bentuk gaya bahsa, seperti metafora, ironi, litotes, dan sebagainya.
e.     Charles Morrist
Mengemukakan bahwa semantik menelaah “hubungan-hubungan tanda-tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut”.
f.       Lehrer (1974:1)
Semantik adalah studi tentang makna. Bagi Lehrer, semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas, karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat dan antropologi.
g.     Kambartel (dalam Bauerk;1979:195)
Semantik mengasumsikan bahwa bahasa terdiri dari struktur yang menampakan makna apabila dihubungkan dengan objek dalam pengalaman dunia manusia.
h.    Encyclopedia Britanika (Volume 20, 1996:313)
Semantik adalah studi tentang hubungan antara suatu pembeda linguistik dengan hubungan proses mental atau simbol dalam aktifitas bicara.
i.       Dr. Mansoer Pateda
Semantik adalah subdisiplin linguistik yang membicarakan makna.
II.    Unsur Semantik
Semantik berhubungan dengan tanda-tanda, sintaksis berhubungan dengan gabungan tanda-tanda (susunan tanda-tanda) sedangkan pragmatik berhubungan dengan asal-usul, pemakaian dan akibat pemakaian tanda-tanda di dalam tingkah laku berbahasa. Penggolongan tanda dapat dilakukan dengan cara:
·         Tanda yang ditimbulkan oleh alam, diketahui manusia karena pengalaman, misalnya :
§  Hari mendung tanda akan hujan
§  Hujan terus-menerus dapat menimbulkan banjir
§  Banjir dapat menimbulkan wabah penyakit dan kelaparan.
·         Tanda yang ditimbulkan oleh binatang, diketahui manusia dari suara binatang tersebut, misalnya :
§  Anjing menggonggong tanda ada orang masuk halaman.
§  Kucing bertengkar (mengeong) dengan ramai suaranya tanda ada wabah penyakit atau keribytan (bagi masyarakat bangsa Indonesia yang ada di Jawa Barat), dst.
·         Tanda yang ditimbulkan oleh manusia, tanda ini di bedakan atas :
§  Yang bersifat verbal, adalah tanda yang dihasilkan menusia melalui alat-alat bicara.
§  Yang bersifat non-verbal, dibedakan menjadi 2, yaitu :
v  tanda yang dihasilkan anggota badan, dikenal sebagai bahasa isyarat, misalnya acungan jempol bermakan hebat, bagus.
v  tanda yang dihasilkan melalui bunyi (suara), misalnya bersiul bermakna gembira, memanggil, ingin kenal, dsb.
III.       Jenis-Jenis makna
·         Makna Leksikal: makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, yang sesuai dengan hasil observasi indera kita, makna apa adanya, makna yang ada di dalam kamus.
Misalnya : kuda bermakna leksikal sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.
·         Makna Gramatikal: makna gramatikal terjadi apabila terdapat proses afiksasi, reduplikasi, komposisi dan kalimatisasi.
Misalnya : berkuda, kata dasar kuda berawalan ber- yang bermakna mengendarai kuda.
·         Makna Kontekstual: makna sebuah kata yang berada di dalam suatu konteks. Misalnya :
§  Rambut di kepala nenek belum ada yang putih (bermakna kepala)
§  Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.
·         Makna konteks dapat juga berkenaan dengan konteks situasinya, yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu, misalnya: tiga kali empat berapa? Pertanyaan tersebut apabila dilontarkan kepada anak SD jawabannya adalah dua belas, tetapi apabila dilontarkan kepada tukang cetak foto jawabanya adalah dua ratus atau tiga ratus, karena pertanyaan tesebut mengacu pada biaya pembuatan pas photo yang berukuran tiga kali empat centimeter.
·         Makna referansial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan.
Misalnya :
§  orang itu menampar orang
§  orang itu menampar dirinya
·         Makna kognitif disebut juga makna denotative adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yang menunjuk benda-benda nyata, tetapi mengacu pula pada bentuk-bentuk yang makna kognitifnya, antara lain itu, ini, ke sana, ke sini.
Misalnya : orang itu mata duitan.
·         Makna konotatif adalah makna yang bersifat negatif, misalnya berbunga-bunga sampai tidak tahu sedangkan makna sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif.
Misalnya : dia adalah bunga di kampung itu.
·         Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari sebuah konteks atau asosiasi apa pun.
Misalnya : kata kuda memiliki makna konseptula sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.
·         Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.
Misalnya : kata melati berasosiasi dengan suci atau kesucian, kata merah berasosiasi dengan berani.
·         Makna idiom adalah makna leksikal yang terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna berlainan.
Misalnya : meja hijau bermakna pengadilan, membanting tulang bermakna bekerja keras.
·         Makna pribahasa adalah makna yang hampir mirip dengan makna idiom, akan tetapi terdapat perbedaan, makna pribahasa adalah makna yang masih dapat ditelusuri dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai pribahasa, sedangkan makna idiom tidak dapat diramalkan.
Misalnya : seperti anjing dan kucing yang bermakna dua orang yang tidak pernah akur. Makna ini memiliki asosiasi bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersuara memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.
IV.   Referensi
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Kentjono, Djoko. 1990. Dasar-Dasar Linguistik Umum. Jakarta: FS UI.
http://anaksastra.blogspot.com/2008/11/sejarah-semantik.html
http://sastrawancyber.blogspot.com/2010/04/pengertian-semantik-menurut-beberapa.html